‘KENAPA‘ adalah kata yang seringkali muncul saat di hati ini sedang kurang bersyukur. Sedang iri, atau lagi senang mengeluh.
“Kenapa ya, kok muka jadi jerawatan gini, badan jadi gendut, perasaan dulu langsing dan cantik?”
“Kenapa juga tetangga depan yang suaminya kerjanya samaan tapi kok mobilnya bagusan dia?”
“Kenapa juga kok dia lahir di keluarga kaya, sedang saya lahir di keluarga pas-pasan?”
“Kenapa juga ayah ibu, kakak dan saudara-saudaranya orang soleh, sedang lingkungan saya apalah-apalah?”
Dipikir-pikir ini kata ‘kenapa’ kok kenapa sering lewat mondar-mandir di pikiran kita? Direnung- renung kenapa juga ngga ada jawabannya?
Apa jawabannya sudah ada tapi diri ini enggan mengakuinya?
Atau jawabannya memang salah kita sendiri yang tidak bisa menjaga dan merawat diri serta mengusahakan hidup agar lebih baik.
Ternyata jawabannya sudah jelas, tapi karena kurang bersyukur enggan berusaha, makannya kata ‘kenapa’ tetap saja mondar mandir di kepala kita bermain bersama kekufuran.
“Kenapa begini?”
“Kenapa begitu?”
“Kenapa?”
“Kenapa?”
Kebanyakan kenapa, akhirnya badan jadi lemes hidup kurang semangat. Padahal jika dipikir seharusnya supaya hidup ini lebih asik, tidak usah bertanya-tanya ’kenapa’. Cukup jalani saja apa yang terbaik yang bisa dilakukan, syukuri segalanya. Kalaupun ‘kenapa’ itu hadir, jadikan kata itu sebagai sarana mengoreksi diri atau sarana untuk lebih memikirkan kebesaranNya.
* * *
Nabi Ibrahim (‘Ibrāhīm):7 – Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
SUMBER Islampos.com
